Site icon BeritaKota24

Amerika Serikat Dan Iran Memanas, Turki Tawarkan Jadi Mediator

Amerika Serikat

Amerika Serikat Dan Iran Memanas, Turki Tawarkan Jadi Mediator

Amerika Serikat (AS) Dan Iran Kembali Memanas Di Awal Tahun 2026, Memicu Kekhawatiran Akan Eskalasi Konflik Besar Di Kawasan Timur Tengah. Di tengah ketegangan yang semakin meningkat, Turki menyatakan kesiapan untuk menjadi mediator dalam upaya meredakan ketegangan melalui jalur diplomasi. Langkah ini di pandang sebagai upaya mencegah konflik militer yang berpotensi berdampak luas secara regional maupun global.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan kemungkinan serangan militer terhadap Iran. Pernyataan ini muncul menyusul respon keras pemerintah Iran terhadap aksi protes domestik yang berlangsung awal bulan ini. Yang berujung pada sejumlah korban jiwa dan penangkapan massal. Amerika Serikat merespons dengan mengerahkan satu kelompok kapal induk Angkatan Laut ke perairan Timur Tengah sebagai sinyal kekuatan militer.

Iran sendiri menegaskan posisinya siap mempertahankan diri, bahkan mengklaim kendali atas wilayah strategis seperti Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital yang menjadi titik neraca energi dunia. Klaim ini sekaligus menjadi peringatan bahwa konflik skala besar akan berdampak serius bukan hanya pada Washington dan Teheran, tetapi juga pada dunia internasional.

Turki Ambil Sikap Diplomatik, Berbeda Dengan Amerika Serikat

Turki, yang berbatasan langsung dengan Iran dan merupakan anggota NATO, mengambil posisi yang berbeda dari AS dalam konflik ini. Pemerintah Turki secara tegas menyatakan menolak intervensi militer terhadap Iran dan menilai bahwa solusi damai melalui diplomasi adalah pilihan terbaik.

Dalam kunjungan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi ke Ankara pada akhir Januari 2026. Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan di jadwalkan menyampaikan tawaran dirinya dan negaranya untuk menjadi mediator dalam konflik ini. Menurut sumber diplomatik yang dikutip AFP, Fidan akan menegaskan kesiapan Turki untuk membantu meredakan ketegangan melalui dialog antara AS dan Iran, termasuk mengarah pada pembahasan isu nuklir yang masih menjadi inti perselisihan.

Sikap ini juga mencerminkan kekhawatiran Turki terhadap dampak destabilisasi yang lebih luas jika konflik meletus. Turki menilai bahwa setiap operasi militer terhadap Iran tidak hanya akan memperburuk situasi di kawasan, tetapi juga membawa risiko terhadap keamanan dan stabilitas global.

Fokus Turki pada Isu Nuklir

Selain menawarkan mediasi, Turki juga menekankan pentingnya untuk menghidupkan kembali pembicaraan mengenai program nuklir Iran sebagai titik awal penyelesaian konflik. Pendekatan ini di dorong oleh keyakinan bahwa penyelesaian munaqos nuklir bisa menjadi gerbang untuk membuka dialog lebih luas dan meredam ketegangan yang terjadi saat ini.

Dalam pernyataannya beberapa hari sebelumnya, Fidan juga menyarankan kepada AS untuk menyelesaikan perselisihan dengan Iran secara bertahap. “Satu per satu” — di mulai dari isu nuklir, guna menghindari perasaan terhina atau tekanan politik yang dapat menghambat negosiasi.

Upaya Diplomasi Lain

Dalam beberapa hari terakhir, bukan hanya pertemuan di Turki yang menjadi sorotan. Sebuah laporan menyebutkan bahwa sejumlah sekutu AS di kawasan Timur Tengah. Termasuk Qatar, Arab Saudi, dan Oman, telah mencoba membujuk AS untuk menunda rencana serangan terhadap Iran. Mereka khawatir perang akan menyeret seluruh kawasan ke dalam konflik berskala besar dan berdampak pada stabilitas regional.

Sementara itu, Iran sendiri menyatakan kesiapan untuk menerima proses perdamaian dalam kerangka hukum internasional meskipun ia tetap menegaskan haknya untuk mempertahankan diri dan melindungi kepentingan nasionalnya.

Mengapa Mediasi Turki Penting?

Turki memiliki posisi strategis sebagai negara yang memiliki hubungan baik dengan banyak pihak di Timur Tengah dan sekaligus menjadi jembatan antara Barat dan dunia Islam. Kesiapan Turki untuk memediasi konflik ini menunjukkan keinginan negara itu untuk berperan aktif dalam menyelesaikan krisis global tanpa kekerasan.

Negara tetangga seperti Turki mengetahui betul risiko geopolitik dari konflik berskala besar, antara lain ancaman gelombang pengungsi besar-besaran, gangguan ekonomi akibat konflik di jalur energi utama, serta meningkatnya ketegangan etnis dan agama di wilayah yang sudah rawan.

Exit mobile version