Macan Tutul

Macan Tutul Masuk Permukiman, Dua Warga Luka Cakar & Gigitan

Macan Tutul Tiba-Tiba Memasuki Kawasan Permukiman Warga Desa Maruyung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Pada Kamis pagi (5/2/2026). Hewan liar yang di lindungi ini sempat berkeliaran di lingkungan rumah warga dan menyebabkan dua orang mengalami luka akibat cakaran dan gigitan sebelum akhirnya upaya pengamanan dilakukan petugas gabungan.

Aksi Macan Tutul di Kawasan Permukiman

Kemunculan Macan Tutul pertama kali di laporkan warga pada pagi hari. Satwa tersebut terlihat berkeliaran di kawasan Kampung Maruyung, RT 04/RW 11, hingga memicu kepanikan di lingkungan sekitar. Beberapa warga bahkan sempat merekam kejadian hewan itu masuk ke teras rumah dan area pemukiman sebelum akhirnya melarikan diri ke bagian belakang permukiman saat didekati oleh warga.

Saksi warga, Rizki Maulana, menyebutkan bahwa Macan Tutul sempat menampakkan diri di depan rumah dan berdiam di teras. Kejadian ini memicu kekhawatiran warga karena satwa besar ini tidak hanya muncul sekilas. Tetapi berkeliaran cukup lama di area padat penduduk yang biasanya di penuhi aktivitas masyarakat pada pagi hari.

Korban Luka Akibat Cakaran Macan Tutul dan Penanganan Medis

Dalam insiden ini, dua warga yang beraktivitas di sekitar lokasi menjadi korban serangan macan tutul. Kedua warga itu mengalami luka berupa cakaran dan gigitan, kemudian di larikan ke puskesmas setempat untuk mendapatkan perawatan medis. Berdasarkan informasi dari pemerintah desa, kondisi kedua korban kini sudah dalam status stabil setelah mendapatkan perawatan awal.

Kepala Desa Maruyung, Apen Supendi, menyampaikan bahwa laporan tentang kemunculan macan tutul telah di terima pihaknya sejak pagi. Dan warga merasakan kepanikan cukup besar akibat kehadiran satwa yang ukurannya di laporkan sebesar kambing dewasa tersebut. Selain itu, Apen menegaskan bahwa meskipun korban luka sudah di rawat, warga di minta tidak mendekati lokasi agar tidak memicu agresivitas macan lebih lanjut.

Koordinasi Penanganan dengan BBKSDA

Menindaklanjuti kejadian ini, pemerintah dengan aparat setempat langsung ber koordinasi dengan BBKSDA (Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam) Jawa Barat. Tim BBKSDA di laporkan tengah dalam perjalanan menuju lokasi untuk melakukan penanganan lebih lanjut. Termasuk upaya pengamanan satwa, evakuasi, dan mitigasi potensi ancaman bagi masyarakat maupun macan tutul itu sendiri.

BBKSDA memiliki peran penting dalam kasus seperti ini karena macan tutul merupakan satwa yang di lindungi oleh undang-undang. Pendekatan yang di lakukan oleh instansi ini biasanya mencakup penangkapan yang aman bagi satwa dan warga, serta upaya relokasi kembali ke habitat aslinya jika memungkinkan.

Imbauan bagi Masyarakat

Pemerintah desa dan aparat keamanan setempat mengimbau warga agar tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan pergerakan satwa liar tersebut. Warga di minta membatasi aktivitas di luar rumah, terutama di area lokasi kemunculan macan tutul yang terakhir terlihat, demi keselamatan bersama. Batasan ini juga bertujuan untuk mengurangi interaksi yang bisa memicu agresi dari satwa liar yang tengah stres atau terdesak.

Selain itu, warga di imbau tidak mencoba menangkap atau mendekati macan tutul secara sendiri-sendiri karena tindakan itu sangat berbahaya dan bisa memperburuk situasi. Pihak petugas yang berpengalaman seperti BBKSDA di latih khusus untuk menangani satwa liar secara aman dan efektif.

Fenomena Masuknya Satwa Liar ke Permukiman

Kejadian satwa liar seperti Macan Tutul turun dari habitatnya menuju permukiman bukanlah hal yang sepenuhnya baru di Indonesia. Terutama di wilayah Jawa Barat yang memiliki hutan dan kawasan konservasi yang masih menjadi habitat berbagai satwa besar. Perubahan habitat, berkurangnya ruang hutan, dan keterdesakan hewan dalam mencari makanan bisa menjadi faktor yang membuat satwa liar semakin sering muncul di sekitar pemukiman manusia.

Insiden serupa pernah di laporkan di beberapa wilayah lain di Jawa Barat. Menunjukkan hubungan antara aktivitas manusia dan rentannya ekosistem satwa liar yang terancam. Dalam banyak kasus, penanganan yang tepat dari instansi konservasi menjadi kunci utama guna menjamin keselamatan masyarakat serta perlindungan terhadap satwa liar itu sendiri.