
Budaya Senioritas Bisa Menjadi Sebab Kekerasan
Budaya Senioritas Jika Di Amati Sejauh Ini Dapat Menjadi Pemicu Kekerasan Ketika Di Salahartikan Atau Di Salahgunakan. Apalagi hal ini seringkali kita lihat di terapkan dalam berbagai institusi dan organisasi. Dalam lingkungan yang menjunjung tinggi senioritas, para senior memiliki kekuasaan yang lebih. Bahkan seringkali di pandang sebagai sosok yang harus di hormati tanpa mempertimbangkan tindakan mereka. Sehingga dalam banyak kasus, ketidakseimbangan kekuasaan ini memungkinkan senior untuk berperilaku semena-mena terhadap junior. Apalagi karena junior berada di posisi yang lebih rendah dan merasa tertekan untuk mematuhi aturan tidak tertulis. Makanya mereka cenderung menerima perlakuan kasar tersebut sebagai hal yang “normal”.
Kemudian Budaya Senioritas juga sering menumbuhkan rasa takut pada junior. Terutama yang menganggap kekerasan atau perlakuan kasar sebagai bentuk “pendidikan” atau “proses pendewasaan”. Dalam institusi seperti sekolah, kampus atau tempat kerja, kekerasan oleh senior kerap di anggap sebagai ritual yang harus di jalani. Nah karena di anggap sebagai bagian dari tradisi maka korban kekerasan lebih memilih untuk diam dan menerima perlakuan tersebut. Tentunyaa ini karena mereka khawatir di anggap lemah atau tidak hormat kepada senior. Rasa takut dan ketidakberanian inilah yang membuat praktik kekerasan terus berulang dan bahkan meningkat sampai menciptakan lingkungan yang tidak sehat.
Jadi untuk menghentikan kekerasan yang di sebabkan maka institusi harus menerapkan sistem yang mendukung kesetaraan. Tentunya juga harus menghormati hak setiap individu tanpa memandang status senioritasnya. Begitu juga pendidikan tentang penghargaan, kerjasama dan komunikasi yang sehat karena membantu menghilangkan persepsi bahwa kekerasan adalah hal yang wajar. Selain itu institusi juga perlu memiliki mekanisme pelaporan dan perlindungan bagi korban kekerasan sehingga mereka merasa aman untuk melapor. Dengan cara ini maka di harapkan budaya senioritas dapat bergeser ke arah yang lebih positif. Tentunya di masa penghormatan dan pembelajaran antar-anggota terjadi dengan cara yang sehat dan tanpa kekerasan.
Awal Mula Budaya Senioritas
Awal Mula Budaya Senioritas ternyata dari sistem hierarki tradisional yang berlaku di berbagai masyarakat dan institusi sejak zaman dahulu. Dalam masyarakat yang berbasis agraris dan feodal kedudukan seseorang seringkali di ukur berdasarkan usianya. Atau juga berdasarkan lamanya mengabdi di suatu tempat seperti pada kerajaan atau lembaga pemerintahan. Individu yang lebih tua atau yang lebih lama berada di posisi tertentu akan memiliki status lebih tinggi dan otoritas dalam mengambil keputusan. Dan sistem ini di anggap efektif untuk menjaga keharmonisan serta ketertiban karena masyarakat menghormati mereka yang lebih berpengalaman.
Lalu seiring waktu budaya senioritas berkembang dan menjadi bagian integral dalam pendidikan dan organisasi modern. Terutama di Asia yang notabenenya masih menjunjung tinggi nilai tradisional tentang penghormatan kepada yang lebih tua. Di banyak sekolah dan universitas, senioritas di jadikan landasan hubungan antara siswa baru dan siswa lama, dengan anggapan bahwa para senior berperan dalam membimbing junior. Namun, dalam penerapannya, konsep bimbingan ini terkadang bergeser menjadi bentuk dominasi. Di mana senior merasa dapat memiliki hak lebih untuk memberikan arahan bahkan tekanan kepada junior. Bahkan dalam banyak kasus, senioritas tidak lagi sebatas penghormatan melainkan tuntutan kepatuhan yang berlebihan.
Nah pada akhirnya budaya senioritas terus berlanjut karena di anggap sebagai “bagian dari tradisi” yang perlu di hormati. Banyak orang yang pernah berada di posisi junior meneruskan praktik ini ketika menjadi senior sehingga menciptakan siklus yang sulit di putus. Budaya senioritas pun mengakar dalam berbagai sistem sosial dan di anggap normal meskipun dampaknya bisa negatif. Maka itu upaya untuk mengubah budaya ini sangat memerlukan pendekatan edukatif. Bahkan juga penyadaran bahwa senioritas tidak boleh menjadi alasan untuk menyalahgunakan kekuasaan.